Rabu, 09 September 2009

Mengejar Wali.... Bapak..!!! Ibu...!!!

Sedang asyik berdzikir, ada seorang berperawakan tinggi besar denga kopeah putih menegurku. Ternyata seorang penjual susu kedelai yang belum laku banyak... ia memintaku untuk membeli beberapa susu yang dijualnya agar dapat kembali menemui sang guru yang telah memerintahkannya menjual susu kedelai di Klender. Dia bercerita bahwa gurunya yang berada di Banten menyuruhnya untuk berjualan di Klender, katanya ia akan bertemu dengan seseorang dengan ciri-ciri memakai gamis putih dan masih muda. Ternyata orang itu adalah aku, katanya.... ga sempat kepikiran ge-er sih, tapi tatkala ia menyebut bahwa gurunya adalah murid langsung dari Abah Dimyati Banten aku langsung tertarik. Aku menyatakan ingin sekali bertemu dengan Abah Dimyati, namun tidak bisa hari itu juga karena hari telah sore. Besok ia berjanji akan datang... kutunggu dan kutunggu... ternyata ia tidak datang... tak lama setelah itu aku mendengar bahwa Abah Dimyati telah wafat. Paku bumi Banten telah dicabut, hingga akhirnya Banten mengalami gempa bumi tak lama setelah itu.
Kata My N'cing, di deket rumah ada habib yang usianya dah lebih dari seratus tahun. Ortuku aja nggak tahu kalo habibnya masih hidup. Akupun berusaha menemuinya bersama sang N'cing tercinta. Habib itu sedang tertidur... ketika my N'cing mencium tangannya, tak bergerak dia. Begitu pula ketika temannya mencium tangan sang habib tua. Maka aku pun berani mencium tangannya, mudah2an g bangun. Tapi ternyata.... ketika kuraih tangannya dan kucium, ia mendadak membuka matanya dan memandangku dengan tatapan sangat tajam. Alamak!!.. takutnya hati ini, Bagai Pungguk yang merindukan bulan ,,,(g nyambung). Ga lama setelah kutemui sang Habib, aku mendengar berita bahwa ia telah wafat melalui speaker di musholla. Hujan turun dengan deras... hingga seisi penduduk kampung g ada yang bisa ngelayat. Anehnya para habaib dan muhibbin yang dari luar kampung malah pada bisa datang. Mungkin karena selama ini kami tidak bersilaturahmi pada sang habib yang ternyata adalah paku bumi bagi kampung kami.... to be continued..


Tidak ada komentar: