Pernah suatu saat Umar radhiyallahu 'anhu pergi ke sebuah provinsi yang berada dalam kekuasaan Islam. Dengan ditemani oleh pembantunya, Umar menaiki seekor kuda yang dituntun. Uniknya, setiap beberapa Kilometer Umar menyuruh pembantunya untuk bergantian menaiki kudanya, dan ia yang menuntun. Hingga tibalah mereka di pintu gerbang provinsi yang dimaksud. Para pejabat dan rakyatnya telah berkumpul untu menyambut Sang Amirul Mu'minin. Namun mereka terheran-heran karena melihat pada saat itu ternyata yang bergiliran menuntun kuda adalah Umar radhiyallahu 'anhu.
Begitulah sikap tawadhu' yang dicontohkan oleh seorang pemimpin besar. Mengikuti ajaran seorang yang menjadi tauladan bagi seluruh umat manusia, Rasulullah shalallahu 'alayhi wa sallam. Tidak selalu ingin dilayani, tidak merasa dirinya pantas untuk dihormati, tidak ingin dirinya dipuja secara berlebihan. Inilah kerendahan hati yang terpancar dari sikap tawadhu' yang telah menjadi darah daging para pembesar Islam. Berbeda sekali dengan para pemimpin masa kini yang semuanya ingin dilayani. Nabi Shalallahu 'alayhi wa sallam bersabda yang artinya " Barang siapa yang tawadhu' maka Allah akan mengangkat derajatnya di dunia dan di akhirat, dan barangsiapa yang sombong maka Allah akan merendahkannya di dunia dan di akhirat". Mengkenye... sehebat apapun kite, ga mempan ditembak, ilmunya banyak, cantiknya sejagad, berlari secepat kilad.. kita harus inget semua ntu cuman titipan dari Allah.... Pan orang nyang paling pinter didunia bila dibanding ilmunya Allah seperti setetes air diantara samudera yang luas......
Tidak ada komentar:
Posting Komentar